Wednesday, November 9, 2016

Aku, Realita dan Gelar Sarjanaku Oleh : Ema Rosdiana



Dingin malam baru kurasa lagi, kini ia mengisi kembali kekosongan pikiranku yang telah lama mengusik hari-hariku. Malam adalah waktu terbaik yang indah untuk merenung, karena menurutku malam itu memberi kedamaian dan menjauhkanku dari bisingnya hiruk pikuk kehidupan.
Demi malam ini aku sampaikan kebahagiaan rasa yang telah lama hilang dalam diriku, meski aku tak punya apa-apa tapi kebahagiaan yang sempurna tak memerlukan itu.
Nah tepat sekali waktu ini untuk aku bercerita tentang kerasnya hidup selepas lulus kuliah. Aku katakan begitu sebab kenyataan yang terjadi padaku seperti itu dan mungkin untuk para alumni yang senasib denganku. Beban yang seharusnya berkurang berbanding terbalik karena paska sarjana semua pikiran dan insting tertuju untuk membahagiakan orang tua segera, namun realita tidak mendukung semua harapan dan doa-doa itu.
Setiap tahun negara meluluskan ribuan sarjana dari berbagai background pendidikan yang berbeda-beda. Namun tidak setiap tahun perusahaan membutuhkan pekerja yang jumlahnya sebanding dengan fresh graduate. Apa yang terjadi? Meledaklah tingkat pengangguran yang hampir separuhnya adalah lulusan perguruan tinggi.
Kenapa sarjana yang harus menganggur? Karena perusahaan di negeri ini masih menyerap tenaga kerja dengan keahlian khusus bukan kematangan teori. Inilah salah satu faktor fresh graduate menderita.  Contohnya saya sendiri.
Kisah saya paska sarjana adalah hunting pekerjaan hampir ke 100 perusahaan baik nasional maupun internasional. Beberapa kali melakukan interview dan hasilnya mereka kurang tertarik dengan fresh graduate yang masih minim pengalaman.  Tidak hanya satu perusahaan yang mengatakan statement serupa namun mayoritas seperti itu.
Demi malam yang sunyi ini, aku berkata padamu lantas bagaimana dengan nasib aku dan kawan-kawan yang mengencam pendidikan tinggi namun tak sebanding lurus dengan ekpektasi? Menjadi momok yang menakutkan setelah wisuda pekerjaan tak kunjung dapat.
Ini masih terjadi padaku, sampai aku berceloteh dalam hati kecilku bahwa aku sangat putus asa dengan keadaan yang tak sesuai dengan apa yang aku pikirkan.  Beban tersendiri menjadi sarjana yaitu membawa gelar tak berisi. Dari kisahku di atas apa pelajaran penting yang perlu kita petik?
Aku beropini bahwa yang membuat kita sukses itu bukan pendidikan melainkan ilmu pengetahuan. Sebab itu ketika menjadi siswa atau mahasiswa tak perlu lah meraih gelar tetapi raihlah ilmu karena itu yang dibutuhkan untuk kehidupan di masyarakat.
Selamat malam semoga tulisan ini bermanfaat
Ema Rosdiana

No comments:

Post a Comment