Thursday, February 26, 2015
LUKA (Ema Rosdiana)
Mimpi buruk itu datang kembali menghantui hidupku. Mimpi
yang menghancurkan setengah napasku dalam menjalani hidup ini. Mimpi yang
selalu membuatku takut akan takdir masa depan yang sudah aku rencanakan. Kini
itu datang dengan rasa sakit yang sama. Kebodohan seakan menjadi teman abadi
yang tak berbeda dari waktu yang sebelumnya, yaitu kepercayaan yanng didustai.
Kadang tak adil mengapa
sakit ini aku yang rasa, bukan dia yang membuatnya. Bukankah itu lebih baik
melakukan hal buruk dan mendapatkan akibatnya. Tapi mengapa luka itu menimpa
orang yang tak pernah bersalah. Tak berdosa, bahkan selalu menjadi yang terbaik
untukknya.
Tak adil memang, salahkah
aku?
Saat cinta tumbuh seakan dunia ini milikku, melihat apapun
menjadi indah dan berwarna. Tak ada kesedihan meskipun dalam keadaan sulit.
Semuanya berharga dan menyenagkan. Alangkah indahnya jatuh cinta. Tapi aku kini
sadar cinta itu tidak untuk selamanya hidup dalam jiwa manusia. Semuanya akan
berubah seiring dengan waktu yang
menggeser pergantian siang dan malam. Begitupun cinta, ia akan sirna
tatkala waktu itu sudah lama bersamanya.
Dan kehilangan cinta itu hal yang sangat menyulitkan untuk
satu pihak yang masih menginginkannya. Dan sangat mengerikan saat melihat orang
yg dulu ada untuk kita kini bahagia bersama dengan orang lain. Sakit sekali.
Hari ini 19 feb 2015 hal itu terjadi lagi dalam hidupku.
Dengan luka yang sama seperti dulu. aku mencintai sahabatku dan aku yakin
diapun begitu, Kami mengikatkan janji tidak akan berpacaran dengan siapapun dan
akan melihat masa depan di antara kami berdua. Aku sangat bahagia karena
menjalani hidup dengan cinta yg tulus tanpa hubungan. Indah sekali. Sekitar 1,5
bulan semuanya lancar, menyenagkan, indah dan bahagia. Aku selalu merindukannya
begitupun dia.
Hari panik itu tiba, dia menghilang dan sangat jarang ingin
berkomunikasi denganku. Dia menjauh dan selalu menghindar bila aku ingin
bercakap dengannya. Dia mengabaikanku layaknya bangkai. Ia benar-benar berubah.
Entah apa yang terjadi, dan aku selalu berpikir mungkin dia sibuk dan
semacamnya.
Hal itu terjadi sekitar 2 minggu, dia tak ingin membagi kisah
lagi denganku. Dia selalu beralasan bila aku ingin bersamanya. Dan aku masih
mempercayainya bahwa di memang sibuk.
Namun Tuhan benar-benar ingin aku mengetahui hal sebenarnya
akan rahasia hidup ini. Datanglah seorang lelaki yang memang seperti sengaja
dikirim untukku. Dia memberitahukanku bahwa lelaki yang aku cintai sudah
menjalin kasih dengan wanita lain.
boomm...booommm
Hancurlah hatikku malam itu, benar-benar hancur dan sakit.
Serasa napasku terangkat ke atas dan tak kembali lagi. Air matapun menderas
tanpa diundang terlebih dahulu. Semuanya lebur bagai debu yang ditebarkan di
seluruh padang sahara. Aku menangis dan tak mempercayai akan takdir buruk yang
tak kuinginkan itu. Namun itu nyata, dia mengingkari janjinya. Dia pergi
memilih cinta yang diinginkannya. Dia pergi dan melukai aku yang tak pernah
berdosa padanya. Dia menjauh dan jijik padaku.
Apa salahku? Begitukah ketika kamu bahagia Kasih?
Kamu mungkin menangisi wanita itu malam ini karena seperti
yang kamu bilang dia mencoba bunuh diri demi dirimu.
Tapi kamu tak pernah sadar aku pun akan melakukan hal itu
karena kamu menghianatiku...
Subscribe to:
Posts (Atom)
