Semenjak kepergiannya satu bulan yang lalu mengisahkan ribuan
luka untukku. Aku belum mampu berdiri sendiri tanpa kekuatan cintanya, dunia
ini seperti luka tanpa kehadirannya. Aku hanya menginginkan dirinya menjadi
pendamping dalam hidupku karena hanya dia yang tau bagaimana mengobati
luka-luka dalam hati. Aku sungguh mencintainya sampai kapanpun, cinta ini takan
pernah hilang ditelan jarak yang menjadi penghalang cintaku padanya.
Dulu dia pernah berikrar akan mencintaiku selamanya, tapi
ucapan itu menghilang saat badai menghantam hubungan cintaku dengannya. Dengan
mudah ia menjilat ludahnya kembali lalu membuat luka untuk kesekian kalinya,
tapi aku tetap memaafkan walapun itu menyakitkan.
Berapa kali dia menggores batinku lalu meninggalkannya hingga
mati, dalam beberapa saat dia kembali dengan seribu alasan untuk mencintaiku
lagi dan meminta maaf atas segala kesalahannya padaku, aku tentu tidak menerima
luka itu kembali. Tapi apa daya hatiku membuka seribu pintu untuk terus
mencintainnya. Ini terasa tidak adil bagiku.
Bahkan sampai saat ini aku masih mencintainnya. Aku tidak
peduli apapun yang ia ucapkan padaku, karena dia tidak pernah mengerti arti
mencintai.
Salahkah aku
mencintainya?
Dia telah pergi selamanya dalam hidupku, kini hanya pikiran
dan mimpi hitam yang akan selalu melekat dalam ingatanku. Aku pernah telah dan
akan terus mencintainya. Jujur jika aku bilang aku kehilangan rasa kepada
lelaki lain setelah kepergian dirinya. Tidak sedikitpun kurasakan getaran yang
berarti saat aku bersama lelaki lain. Aku tidak mengerti bagaimana cinta hitam
ini membunuh penglihatanku akan indahnya dicintai.
BY: EMA ROSDIANA
No comments:
Post a Comment