Ketika air mata berderai membasahi dunia, engkau masih rela untuk menghapusnya.
Saat aku lumpuh menghadapi dunia, engkau datang untuk menuntunku.
Penglihatanku gelap tak dapat melihat apapun tapi engkau datang sebagai cahaya.
Bolehkah aku berkata?
Sahabat engkau sangat luar biasa bagiku, sosokmu yang selalu kuharapkan nanti disaat aku pergi.
Andai engkau tau betapa aku menginginkanmu bahagia disetiap detik kita bersama.
Tapi... apakah engkau merasakan hal yang sama denganku?
Aku ingin bertanya? apakah aku sahabatmu?
Apakah aku selalu membuatmu bahagia atau sebaliknya?
Ataukah aku musuhmu?
Maaf aku bertanya hal bodoh yang tidak seharusnya aku tanyakan...sudihkah engkau memaafkan/
Selidikilah hatiku sahabat, karena aku selalu terlihat bodoh di matamu?
Lihatlah aku disini yang tidak berani mengeluarkan nada tinggi saat aku berbica denganmu, karena aku takut engkau terluka sepertiku.
Maafkan aku salah telah memilihmu untuk jadi yang terbaik, Tapi hari ini aku marah pada diriku sendiri karena membencimu.
Aku benci saat engkau meninggikan nada suaramu saat menasehatiku, aku terluka dengan kata-katamu yang tanpa kau sadari telah menghancurkan perasaanku.
Apakah ini salahku?
Coba kau ingat kembali berapa kali aku membentakmu?
Apakah engkau tak sadar aku selalu menjaga lidahku, agar aku tidak melukaimu..
Maafkan aku telah menjadi sahabat bodohmu?
No comments:
Post a Comment